"Oppa... Aku ingin putus..."
Dia menatapku tak percaya.
"Wae... Waeyo?" tanyanya.
"Aku... Aku tidak bisa lagi menjalani hubungan ini diam-diam, oppa... Selain itu, aku merasa bersalah pada Sunny onnie..." kataku.
"Yoo... YoonA tenanglah... Sunny itu urusanku, aku pasti bisa menyelesaikannya, ok?" kata Sungmin oppa menenangkan. Aku menggeleng.
"Oppa tidak usah menceraikan Sunny onnie. Aku yang masuk ke dalam kebahagiaan kalian, oleh karena itu aku jugalah yang harus pergi dari kalian, oppa..." kataku.
"Kau tidak mencintaiku?" tanya Sungmin oppa. Aku menggeleng.
"Aku mencintaimu, Oppa. Tapi, aku pun tidak bisa memaksakan perasaanku dengan cara mengorbankan perasaan orang lain..." kataku.
"Aku mencintaimu, YoonA. Jangan pergi..." kata Sungmin oppa.
"Kau tidak mencintaiku, oppa. Aku hanya pelampiasan nafsumu. Yang kau cintai itu istrimu, ibu dari anak-anakmu kelak. Wanita itu Sunny onnie..." Sungmin oppa terdiam. Aku bisa mendengar isakan-isakannya.
"Oppa, uljimayeo... Kau tidak pantas menangis karenaku... Yang pantas kau tangisi, kau cintai itu Sunny onnie bukan aku. I'm just a bad girl who tried to ruin your happiness. Apalagi Sunny onnie kini sedang hamil, dan anak yang dikandungnya itu adalah anakmu, darah dagingmu. Kau tega membiarkan darah dagingmu itu hidup tanpa ayah? Tentu saja tidak, oppa..."
Sungmin oppa mendongak menatapku.
"Kenapa? Kenapa kau begitu membela Sunny? Padahal dia adalah orang yang sejak dulu merebutku darimu..." tanya Sungmin oppa.
"Karena aku adalah wanita, oppa, sama seperti Sunny onnie. Wanita tidak pantas untuk disakiti oleh orang yang dicintainya. Sunny onnie... Jangan pernah kau menyakitinya, oppa. Aku berpikir, apa yang akan terjadi padaku, bila aku mengalami hal yang sama sepertinya. Suami yang dicintainya, dipercayainya, mencintai wanita lain. Tentu hal itu akan sangat menyakiti hatiku..." kataku.
"Oppa, try to love her. Sunny onnie adalah wanita yang baik. Dia hanya mencintaimu dan tidak pernah melirik orang lain..." Aku merogoh clutch-ku dan mengeluarkan seuntai kalung dengan liontin permata yang sangat indah.
"Oppa, berikanlah ini pada Sunny on..." Sungmin oppa menahan tanganku, kemudian tersenyum.
"Simpan itu, YoonA. Kalung itu adalah bukti kalau cintaku tulus untukmu. Seperti janjiku waktu SMP dulu, aku akan mencintaimu selamanya..."
"Aku akan berusaha untuk mencintainya, karena itu pun salah satu cara agar aku bisa terus mencintaimu... Kudoakan kebahagiaanmu, YoonA, meskipun itu bukan diriku yang membuatmu bahagia..." Sungmin oppa beranjak berdiri dari bangkunya. Sebelum pergi, dia berbisik di telingaku,
"I'll always love you. Tangsineun naegai sesangeseo saranghaneun yongilhan saramimnida. Hananeun naega saranghaneun, Im Yoon Ah..."
Kemudian, Sungmin oppa pergi dari situ. Aku tersenyum.
"Sungmin oppa, itu adalah kata-kata terindah yang pernah aku dengar dari bibirmu. Terimakasih atas semua kenangan yang pernah kau berikan padaku selama 10 tahun ini. Mulai dari ketika aku duduk di bangku SMP, sampai aku dewasa sekarang ini. Kenangan darimu adalah kenangan terindah dan termanis yang pernah kualami selama hidupku. I'll pray for you and Sunny onnie's happiness. Saranghaeyo, Lee Sungmin..."
--------------------------------------------
Love is not something to be owned...
However, love is something that should be considered seriously...
Love was not kidding...
However, love is a serious feeling that should be taken seriously too...
Love is a good lesson, because it can make us more mature again...
However, love is a poison that can make usblind and deaf to the circumstances surrounding...
Remember,
Love is not a reason to impose our feeling...
But, love is the reason to make us, people we love, and everyone around us happy because the love itself...
----------------------------
Special for my onnie...
Onnie, think about how people feel who love people who now love onnie...
Think about how sick minded people that...
Think about your children...
Leave him, onnie...
That woman had no sin to you...
She never hurt you,
But, why did you hurt her...?
Aku sebagai yeodongsaeng-mu, hanya ingin mengingatkan,
Bahwa karma itu terus berjalan, onnie...
Kau wanita, onnie...
Bagaimana perasaanmu apabila ada di posisinya?
Sakit bukan?
Bagaimana kalau anak perempuanmu ada di posisinya?
Kau juga pasti tidak terima, iya kan?
Pikirkanlah lebih jauh, onnie...
Apapun keputusanmu, aku mendukungmu...
Onnie, hwaiting~~~!!!^^
cerita ngaco!
BalasHapusMaaf ngaco gmn?
BalasHapus